KRITIK ARSITEKTUR NORMATIF : MUSEUM BANK INDONESIA
Pada pertemuan
terakhir untuk mata kuliah Kritik Arsitektur, telah dijelaskan tentang Kritik
Arsitektur Normatif dan Kritik Arsitektur Impresionis. Keduanya merupakan
metode yang digunakan dalam penulisan Tugas Kritik Arsitektur selanjutnya. Saya
mendapatkan Tugas dalam penulisan Kritik Arsitektur Normatif. Hakikat kritik
normatif adalah adanya keyakinan (conviction) bahwa di lingkungan dunia
manapun, bangunan dan wilayah perkotaan selalu dibangun melalui suatu model,
pola, standard atau sandaran sebagai sebuah prinsip. Kritik Normatif merupakan
suatu prinsip, keberhasilan kualitas lingkungan buatan dapat dinilai. Suatu
norma tidak saja berupa standard fisik yang dapat dikuantifikasi tetapi juga
non fisik yang kualitatif. Norma juga berupa sesuatu yang tidak konkrit dan
bersifat umum dan hampir tidak ada kaitannya dengan bangunan sebagai sebuah
benda konstruksi.
Karena
kompleksitas, abstraksi dan kekhususannya kritik normatif perlu dibedakan dalam
metode sebagai berikut :
• Metoda Doktrin ( satu
norma yang bersifat general, pernyataan prinsip yang tak terukur)
• Metoda Sistemik (
suatu norma penyusunan elemenelemen yang saling berkaitan untuk satu tujuan)
• Metoda Tipikal ( suatu norma yang didasarkan pada model yang
digenralisasi untuk satu kategori bangunan spesifik)
• Metoda Terukur ( sekumpulan dugaan yang mampu mendefinisikan bangunan
dengan baik secara kuantitatif)
Dalam hal ini,
saya memilih Museum Bank Indonesia, Jakarta, sebagai objek penulisan.
Museum Bank Indonesia
Museum ini menyajikan
informasi peran Bank Indonesia dalam perjalanan sejarah bangsa yang dimulai
sejak sebelum kedatangan bangsa barat di Nusantara hingga terbentuknya Bank
Indonesia pada tahun 1953 dan kebijakan-kebijakan Bank Indonesia, meliputi pula latar belakang dan dampak kebijakan Bank
Indonesia bagi masyarakat sampai dengan tahun 2005. Penyajiannya dikemas
sedemikian rupa dengan memanfaatkan teknologi modern dan multi media, seperti
display elektronik, panel statik, televisi plasma, dan diorama sehingga
menciptakan kenyamanan pengunjung dalam menikmati Museum Bank Indonesia. Selain
itu terdapat pula fakta dan koleksi benda bersejarah pada masa sebelum
terbentuknya Bank Indonesia, seperti pada masa kerajaan-kerajaan Nusantara,
antara lain berupa koleksi uang numismatik yang ditampilkan juga secara menarik.
Pada dasarnya bangunan heritage ini didominasi oleh material beton dan kaca. Secara struktur, museum ini menggunakan struktur kolom dan balok beton yang memberikan kesan kokoh dan monumental. jarak antara atap dan lantai bangunan cukup tinggi disesuaikan dengan fungsi bangunan sebagai museum. Selain itu, pemilihan warna putih pada bangunan ini menggambarkan kemegahan dengan sentuhan alami.
Interior Museum Bank Indonesia dirancang sangat sesuai dengan fungsi bangunan. Berfungsi sebagai museum dan bangunan cagar budaya, interior bangunan ini terdiri dari tampilan-tampilan dengan memanfaatkan teknologi yang cukup menarik dan informatif terhadap pengunjung yang datang. Untuk pengunjung anak-anak keberadaan pameran di dalam museum juga tidak membosankan.
Museum ini terdiri dari
beberapa area. Area pertama yang akan dijumpai setelah memasuki bangunan museum
adalah auditorium. Di ruang auditorium, pengunjung bisa melihat penayangan film
pendek tentang sejarah perkembangan sistem keuangan di Indonesia. Beranjak dari
ruang auditorium, pengunjung akan mulai memasuki area pameran atau display.
Ruang display ini berurut sesuai dengan kondisi perkembangan sistem keuangan di
Indonesia seperti, dimulai dari gambaran kekayaan Indonesia yaitu rempah-rempah
dan hasil bumi dan perdagangan dengan pelayaran yang dilakukan nenek moyang.
Selanjutnya ada ruang di masa penjajahan, digambarkan Indonesia yang mulai
dikuasai oleh Hindia Belanda dengan Pemerintahan VOC sampai pada pra
kemerdekaan dan pasca kemerdekaan termasuk krisis moneter yang terjadi di
Indonesia pada tahun 1998 silam.
Beberapa alat peraga yang ditampilkan
dalam display yaitu berupa patung, dokumentasi foto tempo dulu, arsip dokumen,
pakaian, audio, emas, mata uang Indonesia dari masa ke masa, hingga dokumentasi
audio.
Dari penataan ruang yang ada di dalam museum, dapat digambarkan suatu pembagian ruang yang sesuai dengan fungsi yang ada. Tidak hanya mempertahankan identitas gaya kolonial namun juga memberikan suguhan informasi dengan cara yang modern dan cukup canggih layaknya museum-museum yang mulai berkembang lainnya. Ini merupakan salah satu hal positif yang dapat digambarkan dari Museum Bank Indonesia. Namun disamping hal positif adapula kekurangan yang terdapat dalam penataan ruangnya. Yaitu, pada ruang auditorium yang menampilkan film pendek tentang sejarah perkembangan sistem keuangan di Indonesia juga menampilkan semacam gambaran mengenai ruang-ruang dalam museum sebelum dimasuki lebih jauh dan ditampilkan hanya pada waktu tertentu saja. Sehingga pengunjung yang tidak sempat menyaksikan penayangan tersebut, setelah memasuki beberapa ruang setelahnya, akan tertarik kembali memasuki ruang auditorium. Hal ini justru dinilai akan menimbulkan sirkulasi yang kurang baik antar pengunjung.
Kesimpulannya, Museum Bank Indonesia merupakan bangunan cagar budaya yang berdiri dan berperan sesuai dengan fungsinya. Bangunan ini selain sebagai tujuan wisata juga merupakan salah satu pusat pembelajaran mengenai perkembangan sistem ekonomi di Indonesia. Adanya fungsi bangunan sebagai museum, sangat penting dalam penataan dan pemanfaatan ruang yang ada. Secara keseluruhan, keberadaan museum ini diharapkan dapat terus dijaga dan dilestarikan karena merupakan aset berharga bagi bangsa.
Komentar
Posting Komentar